• Kalender Hijriyah

  • Amalia Hasanah

ALI BIN ABI THALIB FIDA’ BAGI NABI MUHAMMAD SAW

Rasulullah SAW. Bersabda :

Ana madinatul ilm wa ‘aliyyu babuha

(saya (Muhammad) adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya”

A. Riwayat hidup Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib adalah putra dari paman Nabi Muhammad SAW. Yaitu Abu Talib. Ia lahir pada tahun 602 M. sewaktu kecil ia diberi nama Haidarah oleh ibunya yang bernama Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdu Manaf. Nama itu kemudian diganti ayahnya dengan Ali.

Ketika berusia 6 tahun, Ali diambil oleh Rasulullah sebagai anak angkat. Pada waktu Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul, Ali berusia 8 tahun. Sejak kecil ia banyak menimba ilmu langsung dari Rasulullah. Tidak heran jika Ali tumbuh menjadi pemuda yang arif dan terpelajar. Ali juga termasuk orang-orang yang pertama masuk Islam.

Ketika Nabi Muhammad hendak hijrah ke Madinah bersama Abu Bakar Shiddiq. Ali bin Abi Thalib diperintahkan tetap dirumah Nabi Muhammad SAW. Hal itu dilakukan untuk mengecoh kaum kafir Quraisy yang mengepung rumah Nabi Muhammad, agar mereka mengira Nabi Muhammad masih ada didalam rumah. Dengan demikian Ali adalah orang pertama yang rela menjadi Fida’ atau tebusan bagi Nabi Muhammad SAW. Karena kesetian, kepandaian dan perjuangan yang dilakukan Ali akhirnya pada tahun 2 H. Ali dinikahkan dengan puteri Rasulullah SAW. yang bernama Fatimah Azzahra yang ketika itu baru berusia 15 tahun.

Ali dikenal sebagai panglima perang yang gagah perkasa. Keberaniannya menggetarkan hati lawan-lawannya. Ia mempunyai sebilah pedang bernama Zulfaqar yang merupakan warisan dari Nabi Muhammad SAW. Ali turut serta pada hamper semua peperangan yang terjadi pada masa Rasulullah SAW. dan selalu menjadi andalan pada barisan terdepan. Karena keberaniannya tersebut, ia diberi gelar saifullah artinya pedang Allah.

B. Kekhalifahan Ali bin Abi Thalib

Setelah Usman bin Affan terbunuh, keadaan negeri semakinkacau. Ali bin Abu Thalib diminta menjadi Khalifah oleh sebagian besar kaum muslimin. Mereka beranggapan tidak ada yang patut menjadi khalifah kecuali Ali. Mendengar hal tersebut, Ali berkata, “Urusan itu bukan urusan kalian, ini adalah perkara yang sangat penting, urusan ahlu syura bersama para pejuang perang badar. Akhirnya Ali dibaiat menjadi khalifah pada tanggal 25 Zulhijah 33 H di Masjid Madinah. Pembaiatan itu dimulai oleh sahabat besar yaitu Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqas kemudian diikuti oleh seluruh kaum muslimin. Usaha yang dilakukan Ali selama menjadi khalifah adalah :

  1. Mengganti para pejabat yang diangkat oleh Usman bin Affan
  2. Mengambil tanah yang dibagikan Usman bin Affan kepada kerabatnya tanpa alasan yang jelas
  3. Memberikan tunjangan kepada kaum muslimin dari baitul mal
  4. Memindahkan pusat pemerintahan dari Madinah ke Kuffah.

Jasa-jasa Ali bin Abi Thalib selama menjadi khalifah antara lain sebagai berikut :

  1. Menyempurnakan bahasa Arab

Karena agama Islam telah menyebar keberbagai penjuru dan tidak semua pemeluknya berbahasa Arab sedangkan ajaran Islam disampaikan dengan bahasa Arab maka Ali bin Abi Thalib memerintahkan Abul Aswad ad-Duali untuk memberikan tanda baca dan mengarang kitab-kitab nahwu dengan harapan kaum muslimin yang berasal dari luar Arab dapat mempelajari al-Qur’an dan Hadis dengan benar

  1. Membangun pusat kota

Pada masa pemerintahannya Ali membangun sebuah kota yaitu Kufah (daerah Irak), yang kemudian dijadikan sebagai pusat pemerintahan serta pusat pengembangan ilmu pengetahuan.

C. Pemberontakan pada Masa Ali dan Akhir Hayat Ali bin Abi Thalib

Beberapa pemberontakan terjadi pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib, yaitu :

  1. Pemberontakan Talhah, Zubair dan Aisyah

Terjadi pada tahun 36 H. Talhah, Zubair dan Aisyah  didukung oleh penduduk Basra. Perang yang terjadi diantara kedua pihak itu disebut perang Jamal. Talhah dan Zubair terbunuh. Sedangkan Aisyah ditawan kemudian dikembalikan ke Madinah.

  1. Pemberontakan Mu’awiyah bin Abi Sufyan

Terjadi pada tahun 37 H. pemberontakan ini menyebabkan terjadinya perang Sffin. Pada perang itu, Mu’awiyah bin Abu Sufyan hamper kalah. Kemudian terjadi perjanjian damai (tahkim) dan perang berakhir.

  1. Pemberontakan kaum khawarij

Kaum Khawarij adalah pasukan Ali bin Abi Thalib yang kecewa terhadap hasil tahkim. Mereka lalu memberontak dan meletuslah perang Nahrawan pada tahun 38 H. pasukan Khawarij berhasil dikalahkan.

Karena Kekhalahannya pada perang Nahrawan, kaum Khawarij semakin dendam dengan Ali bin Abi Thalib. Mereka diam-diam menysun rencana untuk membunuh Ali bin Abi Thalib, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Amru bin Ash. Mereka dianggap sebagai orang yang menyebabkan perpecahan umat Islam.  Mereka menetapkan tiga orang untuk melaksanakan tugas tersebut, mereka adalah :

Abdullah bin Muljam bertugas membunuh Ali bin Abi Thalib di Kufah

Barak bin Abdillah at-Tamimi bertugas membunuh Mu’awiyah bin Abi Sufyan di Damaskus

Amr bin Bakar at-Tamimi bertugas membunuh Amru bin Ash di Mesir.

Diantara ketiga orang tersebut, hanya Abdullah bin Muljam yang berhasil melaksanakan tugasnya. Ia menusuk Ali bin Abi Thalib ketika sedang melaksanakan salat subuh. Ali meninggal pada bulan Ramadhan tahun 40 H/661 M setelah memerintah selama 4 tahun. Ali meninggal pada usia 60 Tahun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: