• Kalender Hijriyah

  • Amalia Hasanah

PERJANJIAN HUDAIBIYYAH

Pada bulan Zulkaidah tanggal 6 Maret 628 M atau 6 H. Nabi Muhammad SAW. berangkat menuju Makkah. Beliau disertai 1.400 kaum muslimin yang bertujuan menunaikan ibadah haji. Mereka sama sekali tidak mempunyai niat untuk berperang. Oleh karena itu mereka tidak membawa senjata. Kedatangan kaum muslimin diketahui oleh orang-orang Quraisy. Mereka mengira kaum muslimin akan menyerang. Mereka menyiapkan pasukan dibawah pimpinan Khalid bin Walid.

Ketika rombongan Nabi Muhammad SAW. tiba di lembah Hudaibiyah, unta Nabi Muhammad berhenti. Hal itu merupakan isyarat dari Allah SWT. Agar kaum muslimin berhenti ditempat itu. Kaum Quraisy mengirimkan  Budail bin Warqa dari Bani Khuza’ah untuk menanyakan maksud kedatangan kaum muslimin. Tetapi kaum Quraisy tidak mempercayai jawaban kaum muslimin yang menjawab bahwa kedatangan mereka semata-mata untuk beribadah. Mereka kemudian mengutus Mikras bin Hafs. Jawaban yang didapat pun sama. Karena belum yakin kaum Quraisy mengirimkan Halis bin Alqamah dan Urwah bin Mas’ud.

Sementara itu, Nabi Muhammad mengirimkan Khurasy bin Khuza’ah al-Khuza’i dan Usman bin Affan untuk meyakinkan kaum Quraisy.  Atas jaminan Aban bin Sa’id bin As, Usman bin Affan memasuki kota Makkah. Akan tetapi tidak lama kemudian tersiar kabar bahwa Usman telah meninggal dunia. Mendengar kabar tersebut, Nabi Muhammad dan para sahabat yang menyertainya mengangkat sumpah setia. Mereka saling membela, tidak akan lari, tidak takut mati dan terus berjuang dalam keadaan apapun. Sumpah setia tersebut disebut baitur ridwan.

Tetapi ternyata Usman bin Affan masih hidup. Ia hanya ditahan dan akhirnya dibebaskan oleh kaum Quraisy. Akan tetapi peristiwa baitur ridwan telah membuat kaum Quraisy gentar. Mereka mengirimkan Suhayl bin Amr untuk berunding dengan nabi Muhammad.

Dalam perundingan tersebut, nabi Muhammad memanggil Ali bin Abi Thalib untu mencatat tuntutan yang diajukan oleh Suhayl bin Amr. Nabi Muhammad meminta Ali menulis kalimat Bismillah ar-Rahman ar-Rahim Muhammad Rasulullah. Tetapi Suhayl keberatan, ia meminta diganti dengan kalimat bismika allahumma (Dengan Nama-Mu Ya Allah).

Isi perjanjian hudaibiyyah sebagai berikut :

  1. Muhammad dan rombongannya akan kembali ke Madinah tanpa mengunjungi Ka’bah pada kesempatan ini. (Sikap ini menunjukkan bahwa Muhammad saw. tidak memaksakan kehendaknya terhadap kaum Quraisy). Namun tahun depan pada saat yang sama, kaum Muslimin akan kembali ke Mekkah sebagai peziarah, dan pada saat itu, kaum Quraisy harus mengosongkan kota Mekkah selama tiga hari untuk memberi kesempatan kepada Muhammad saw. dan kaum Muslimin melaksanakan ibadah Umrah Qadha di Ka’bah Baitullah dengan damai.
  2. Dilakukan gencatan senjata 10 tahun antara Mekkah dan Madinah, dengan syarat: Muhammad mengembalikan ke Mekkah anggota Quraisy yang telah menjadi Muslim dan melakukan hijrah tanpa ijin dari penjaga mereka (kepala suku); tetapi Quraisy, tidak diwajibkan mengembalikan setiap Muslim yang membelot ke Mekkah.
  3. Suku-suku Badui dibebaskan memilih untuk membentuk aliansi dengan Mekkah atau Madinah. (Ini perkembangan politik yang sangat penting. Dan sebagian besar, memilih beraliansi dengan Madinah).

Perjanjian Hudaybiyah membawa hikmah sebagai berikut :

  1. Masa damai memberikan kesempatan kepada Nabi Muhammad SAW. untuk menyebarkan risalah kepada kerajaan-kerajaan lain. Diantaranya adalah Raja Gassan, Abbessinia, Persia dan Romawi.
  2. Tujuan kaum muslimin untuk dapat menakhlukkan kota Makkah semakin terbuka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: